Mengenai Saya

Foto saya
Kayuagung, Ogan Komering Ilir, Sumsel, Indonesia
Guru Pendidikan Agama Islam SMA Negeri 3 Kayuagung

Jumat, 12 Februari 2010

Membangun Peradaban dengan Kebesaran Jiwa

Jika seorang pejuang kehilangan misi perjuangannya maka bisa jadi ia akan berubah wajah menjadi pecundang. Sebaliknya jika seorang pecundang meluruskan orientasinya maka ia akan menjadi pejuang. Layak atau tidak seorang memiliki nama besar sangat tergantung pada sebesar dan seagung apa misi yang disandang. Dengan demikian kita mengerti, kenapa Allah SWT menjadikan kita khalifah dengan misi besar perubahan, karena Allah SWT menginginkan kita menjadi besar. Semua orang bercita-cita menjadi orang besar namun tidak semua pemilik cita-cita mampu mewujudkannya.

Dalam hidup ini memang tidak lepas dengan tantangan. Hidup tanpa misi sekalipun tak akan luput dari tantangan, ketidakmampuan menghadapi tantangan akan menghilangan eksistensi diri. Diperhitungkan atau tidak seseorang dalam kehidupan amat sangat bergantung kepada kemampuan diri menghadapi tantangan. Sepanjang perjalanan kehidupan, pembangunan dan penghancuran akan selalu ada sebagai penguji siapa yang terbaik di antara kita.

Kesadaran diri membawa misi besar mebuat para pejuang sadar membutuhkan modal besar. Bukan nasab karena nasab telah membuat Yahudi terlaknat besar kepala. Bukan pula kuasa karena justru dengan kuasa Fir’aun porak poranda. Tidak juga dengan harta karena dengan harta Qorun malah jadi hina. Kebesaran jiwalah modal utamya sebelum nasab, kuasa dan harta yang kita miliki.

Kebesaran hanyalah milik para penguasa jiwa, karena perubahan dalam berbagai skala tidak akan tampak tanpa merubah keinginan jiwa.

”sesungguhnya Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu bangsa tanpa bangsa tersebut merubah jiwa-jiwa mereka”. Jiwa adalah tempat pertarungan kepentingan antara dunia yang fana dan akhirat yang kekal. Jiwa yang lemah akan terjajah oleh dunia dan akan meluncur ke dalam kubangan kehinaan. Sementara jiwa yang kuat akan di dominasi oleh akhirat hingga terbang ke angkasa kemuliaan.

Menghadapi masyarakat yang ”mati” bisa jadi sebagian orang larut atau frustasi. Namun bagi pemilik jiwa besar, ini medan pahala yang akan mengantarkan kepada kebesaran. Melihat kenyataan masyarakat Qurays dalam kesesatan yang nyata, Rosulullah SAW mempersiapkan diri membangun jiwa dengan uzlah. Kholwat dengan kesungguhan mampu membebaskan jiwa dari kesombongan, ujub, dengki, riya dan cinta dunia. Sehingga kotoran dunia akan rontok dari hati dan jiwa ini hanya cinta pada kekekalan Ilahi. Kecintaan pada Allah akan hari akhir sebagai mata air pengorbanan dan jihad akan lahir bersama bersihnya jiwa. Rasa ringan membawa beban, menganggap enteng setiap pujian, tidak silau dengan gemerlap dunia dan gelora juang yang tak kenal padam adalah buah dari uzlah.

Menjaga stamina, meluruskan orientasi dan menambah energi dalam perjuangan bukan perkara mudah. Goncangan perjalanan dengan keterjalan yang tidak terfikirkan dapat menghadang setiap saat. Bagi mereka yang memahami tabiat kehidupan pejuang, bekal perjalanan bukan hanya di awal akan tetapi justru di tengah dan menjelang finis harus makin digandakan. Kemenangan dan ujian sering menjadi samar ketika bekal berkurang. Bisa jadi ujian kemewahandianggap sebagai kemenangan hingga sering memperdaya dan melupakan.

Sang Pemilik jiwa memahami benar tentang kebutuhan jiwa agar tetap berstamina. Ibadah mahdoh dihadirkan dan dirancang untuk menghadapi problematika besar. Sholat, shoum, zakat dan haji bukanlah agenda rutinitas dengan segala kekosongannya, tetapi dia ruh yang menghidupkan. Generator iman yang membuat daya strumnya semakin besar dan energinya tak pernah padam. Menghadapi gelapnya kubur, qiyamul lail menjadi penerang dan menghadapi panasnya masyar, shoum menjadi solusi. Guncangan akhirat yang dasyat selesai dengan ibadah mahdoh, berarti problem keduniaan yang jauh lebih kecil akan bisa tuntas dengannya. Ketika pendukung da’wah, Khodijah dan Abu Tholib telah tiada, ada kesedihan yang mendalam pada diri Rosulullah SAW. Tekanan orang kafir terhadap beliau dan da’wah semakin menggila. Isro’ Mi’roj dengan buah sholat menjadi solusi atas beratnya beban dan tekanan.

Ramadhan yang baru saja kita lalui sebagai media penyuci jiwa sudahkah ia memberi janji atau hanya seremonial kosong tanpa arti? Tidak mungkin rasanya Ramadhan disuguhkan jika ia hanya menjadi beban. Untuk apa Ramadhan dipertahankan sebagai warisan orang-orang sebelum Rosulullah SAW hingga kita hari ini, kalau dia tidak membangin jiwa kita? Sejatinya seluruh ibadah mahdoh dengan seluruh dimensi dan maknanya mampu menguatkan gelora iman dalam jiwa hingga daya juang makin kencang, semangat makin membara dan orientasi akhirat makin menguat. Yang menjadi pertanyaan sudahkah itu terjadi? Atau sebaliknya yang kita dapatkan? Naudzubillah.

Kegagalan Ramadhan bukan hanya milik masyarakat awam, karena ungkapan ”Berapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak berpuasa kecuali lapar dan haus” tidak dikhususkan kepada orang awam. Bisa jadi kader yang banyak dalil semakin pandai ”berdalil” daripada beramal. Tidak menutup kemungkinan juga karena sudah merasa diri kader sehingga sudah merasa bahwa syurga ada dalam genggaman. Perasaan lebih, lebih mampu, lebih pandai, lebih tahu, lebih pengalaman sering membuat orang terlena. ”Kataknlah: Apakah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang yang telah sia-sia amalnnya dalam kehidupan dunia dan mengira bahwa mereka beramal dengan sebaik-baiknya” Al-Kahfi:103-104.

Jujurlah kita, apakah ada kerinduan yang dalam ketika Ramadhan akan tiba, hingga kita mempersiapkannya dengan matang dan optimal? Atau kita menjadi sadar bahwa Ramadhan datang ketika ia sudah datang? Bisa jadi strategi dan targetpun tidak direncanakan sehingga Ramadhan mengalir sebagai sebuah kebiasaan. Tidak ada yang spesial dalam agenda hariannya, Ramadhan tidak Ramadhan sama saja.

Bisa jadi sebagian orang lebih senang menghitung agenda ceramah daripada agenda tilawah. Perhatiannya tentang baju dunia lebih besar daripada baju taqwa. Dagang dengan untung seadanya lebih dikedepankan dibandingkan dagang dengan Allah yang menjanjikan keuntungan ganda. Dominasi fikiran pulang kampung dunia lebih memenuhi kepala daripada pulang kampung akhirat. THR dengan ukuran mobil mewah lebih menggembirakan dan membahagiakan hati daripada kemewahan firdaus.

Mungkinkah Ramadhan yang telah menjadikan orang terdahulu besar akan membesarkan umat hari ini, jika Ramadhan dianggap biasa? Mungkinkah orang seperti ini memiliki kebesaran jiwa? Sanggupkah mereka menghadapi goncangan mihnah? Bisakah mereka selamat dari godaan dunia sementara di bulan yang seharusnya melepas dunia justru cintanya pada dunia makin bertambah? Mengaku kader da’wah sekalipun juga, jika Ramadhan disikapi seperti ini tetap tidak memberi makna. Mengaku boleh tapi belum tentu diakui, merasa diri menang silahkan karena memang tidak terlarang.

Sukses Ramadhan sangat bergantung pada sejauh mana ia mampu memberikan kontribusi imaniah yang akan memberi kematangan jiwa dan kemanfaatan besar bagi diri dan umat. Kecintaannya akan akhirat semakin menguat, semangatnya untuk melakukan perubahan semakin menjadi, apalagi kuasa kini ada dalam diri. Da’wah sebagai kerja utama tidak pernah ditinggalkan, karena meninggalkan pekerjaan mulia berarti kehinaan. Keinginannya untuk membuktikan diri sebagai pemberi solusi bagi umat tak pernah tergadaikan oleh gemerlap dunia. Teriakan lantang: ”Kami da’i sebelum segala sesuatu” semakin hari semakin lantang karena hari ini saatnya membuktikan komitmen da’wah.

Inilah tanda kematangan jiwa, yaitu kekokohan hidayah dalam hati. Sebagaimana disabdakan Rosulullah SAW, suatu ketika beliau ditanya tentang ayat Allah SWT : ”Barang siapa yang Allah kehendaki mendapat hidayah maka Allah lapangkan dadanya untuk menerima Islam” kemudian beliau ditanya apa yang dimaksud dengan ”Asy-Syarhu” Beliau mengatakan: ”Dia adalah Nur atau Cahaya yang bila masuk ke dalam hati maka akan membuat hati lapang dan luas”, kemudian beliau ditanya adakah tandanya? Beliau menjawan ada : ”menjauh dari kehidupan tipu daya, bersegera kepada kampung keabadian dan mempersiapkan kematian sebelum datang”

Ya Allah, jangan Kau jadikan dunia sebesar cita-cita kami dan jangan pula menjadi pemenuh fikiran kami. Amin

By:
Deputi Kaderisasi, Bidang Pembinaan Kader
DPW PKS DKI Jakarta